
Foto: Freepik
Teknologi.id - Sektor pendidikan tinggi di Amerika Serikat dilaporkan tengah menghadapi tantangan serius terkait relevansi gelar akademik di pasar tenaga kerja modern yang dinamis. Berdasarkan data federal yang dihimpun dalam satu dekade terakhir, angka pendaftaran universitas di seluruh wilayah AS mengalami penurunan signifikan sebesar 15% dalam periode tahun 2010 hingga 2022. Fenomena ini diperparah oleh kebijakan pemotongan pendanaan negara yang berdampak langsung pada lonjakan biaya kuliah, sehingga memicu perdebatan di kalangan calon mahasiswa mengenai nilai pengembalian investasi (return on investment/ ROI) dari sebuah pendidikan tinggi.
Kondisi tersebut semakin kompleks seiring dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang mulai mengubah peta kebutuhan industri di berbagai sektor. Para lulusan baru (fresh graduate) kini berada dalam situasi pasar kerja yang sangat kompetitif, di mana banyak posisi entry-level mulai mengalami otomatisasi serta perubahan fungsi oleh banyak perusahaan besar demi efisiensi operasional.
Baca juga: Riset: Dampak Keseringan Pakai AI Bikin Otak Jadi Tumpul, Kemampuan Berpikir Menurun!
Tingkat Pengangguran Lulusan Baru Melampaui Rata-Rata Nasional
Data terbaru dari Federal Reserve Bank of New York yang dirilis pada pertengahan Desember lalu mengungkapkan statistik yang cukup mengkhawatirkan. Tingkat pengangguran bagi fresh graduate telah menyentuh angka 5,8%. Angka tersebut tercatat 1,7% lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengangguran rata-rata di semua sektor pekerjaan secara nasional yang berada pada kisaran 4,1%.
Sebagai perbandingan, tingkat pengangguran untuk kelompok pemegang gelar sarjana lintas usia hanya berada di angka 2,9%. Hal ini menunjukkan bahwa lulusan baru menghadapi risiko pengangguran dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan mereka yang sudah memiliki pengalaman kerja lebih lama.
Alina McMahon, seorang lulusan dari University of Pittsburgh, melaporkan bahwa dirinya telah mengajukan sekitar 150 lamaran pekerjaan full-time, namun mayoritas tanggapan yang ia terima menyatakan bahwa posisi yang dilamar telah dikurangi atau dibekukan. Kondisi ini mencerminkan adanya ketidaksesuaian (mismatch) antara ketersediaan talenta baru dengan daya serap industri saat ini.
Perubahan Kalkulasi SDM dan Efisiensi Pelatihan

Foto: Freepik/ standret
Faktor lain yang memengaruhi serapan tenaga kerja sarjana adalah perubahan perhitungan finansial perusahaan dalam melatih karyawan baru di tengah persaingan ekonomi yang ketat. Simon Kho, mantan kepala program karier awal di Raymond James Financial, menjelaskan bahwa perusahaan kini lebih berhati-hati dalam mengalokasikan sumber daya untuk pelatihan talenta muda.
Secara teknis, perusahaan memerlukan investasi modal waktu dan sumber daya setidaknya selama 18 bulan untuk memulihkan biaya yang dikeluarkan dalam proses pelatihan seorang lulusan baru. Waktu tersebut diperlukan agar seorang karyawan mencapai titik produktivitas optimal yang menguntungkan perusahaan. Namun, kecenderungan karyawan muda untuk berpindah karier dalam waktu singkat setelah periode pelatihan selesai menciptakan risiko kerugian bagi departemen sumber daya manusia (SDM). Kondisi ini memicu pertanyaan mengenai efisiensi biaya pelatihan manual dibandingkan dengan implementasi solusi berbasis AI yang dinilai dapat bekerja lebih cepat, stabil, dan tidak memerlukan waktu adaptasi yang lama.
Baca juga: Solusi atau Ancaman? OpenAI Siapkan Media Sosial Bebas Bot
Reorientasi Model Pendidikan Berbasis Pengalaman Kerja
Menanggapi tekanan pada model universitas tradisional, para ahli pendidikan menekankan perlunya inovasi agresif dalam kurikulum akademik agar tetap relevan. Ryan Craig, penulis buku Apprentice Nation, menyatakan bahwa institusi pendidikan tinggi saat ini sedang menghadapi isu eksistensial yang cukup besar. Menurunnya angka pendaftaran, khususnya pada bidang studi teknis seperti ilmu komputer, menjadi indikasi bahwa gelar akademik tanpa pengalaman praktis mulai kehilangan daya tariknya di mata pasar.
Craig menyarankan agar perguruan tinggi segera melakukan integrasi pengalaman kerja yang relevan dan berbayar ke dalam setiap program studi sebelum mahasiswa dinyatakan lulus.
"Lembaga pendidikan harus mencari cara mengintegrasikan pengalaman kerja yang relevan, sesuai bidang, dan berbayar untuk semua siswa, dan berharap mereka memiliki beberapa pengalaman sebelum lulus," jelasnya dalam wawancara baru-baru ini.
Langkah ini dipandang krusial karena perusahaan di sektor teknologi dan keuangan semakin enggan menanggung beban pelatihan talenta dari nol. Tanpa adanya jembatan yang kuat antara teori di kelas dan praktik di lapangan, jurang pengalaman akan semakin lebar. Oleh karena itu, adaptasi kurikulum yang menyertakan pengalaman kerja nyata dipandang sebagai satu-satunya jalan agar perguruan tinggi tetap menjadi pilihan utama dalam pengembangan karier profesional di masa depan.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News
(yna/sa)