
Foto: affasocial.com
Teknologi.id – Mengeluh soal Windows 11 belakangan ini seolah jadi "olahraga" favorit para penggemar teknologi di internet. Mulai dari ancaman pindah ke Linux hingga protes soal kewajiban login akun, sentimen negatif terus mengalir. Namun, di balik segala kritikan tersebut, CEO Microsoft, Satya Nadella, justru mengumumkan pencapaian fantastis dengan lebih dari 1 miliar pengguna aktif di seluruh dunia. Angka ini membuktikan bahwa Windows tetap menjadi raja di perangkat desktop global.
Kecepatan Adopsi yang Melampaui Windows 10
Secara statistik, Windows 11 mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif dibandingkan dengan pendahulunya. OS ini hanya membutuhkan waktu 1.576 hari sejak dirilis pada 5 Oktober 2021 untuk menyentuh angka 1 miliar pengguna. Sebagai perbandingan, Windows 10 membutuhkan waktu lebih lama, yakni 1.692 hari, sebelum mencapai angka serupa pada Maret 2020. Kecepatan ini cukup mengejutkan mengingat Windows 11 dirilis di tengah kondisi pasar PC yang sedang mengalami jenuh pascapandemi.
Pencapaian ini tergolong luar biasa karena Windows 11 menghadapi hambatan spesifikasi yang lebih ketat melalui syarat TPM 2.0 dan prosesor generasi terbaru. Berbeda dengan Windows 10 yang bisa diinstal hampir di semua PC lama, Windows 11 mewajibkan syarat perangkat keras yang tinggi, sehingga jutaan PC Windows 10 dianggap tidak layak (ineligible) untuk naik kelas. Namun, masifnya distribusi laptop baru yang sudah terpasang (pre-installed) Windows 11 serta faktor kebiasaan pengguna kantoran tampaknya menjadi motor utama yang mendorong angka adopsi ini ke puncak secara organik.
Baca juga: Microsoft Rilis Patch Darurat Januari 2026: Perbaiki Bug Gagal Shutdown di Windows 11
Fenomena Windows 10 yang Menolak Mati
Meskipun Windows 11 mendominasi, Windows 10 masih menunjukkan daya tahan yang luar biasa di pasar global. Data dari Statcounter menunjukkan basis pengguna PC dunia terbelah cukup rata, dengan Windows 10 masih mengantongi sekitar 40–45 persen pengguna aktif. Hal ini menciptakan dilema bagi Microsoft karena diperkirakan masih ada sekitar 1 miliar PC Windows 10 yang aktif hingga akhir 2025, di mana separuhnya terjebak dalam ekosistem lama karena sama sekali tidak bisa diupgrade akibat kendala hardware.
Guna menghindari risiko keamanan massal dan potensi "sampah elektronik" dari PC yang ditinggalkan, Microsoft akhirnya melunak dengan menyiapkan skema pembaruan keamanan berbayar hingga tiga tahun ke depan untuk institusi bisnis. Bagi pengguna rumahan, tersedia opsi pembaruan gratis selama satu tahun serta jaminan dukungan aplikasi vital seperti Microsoft Edge dan Defender hingga setidaknya tahun 2028. Langkah ini diambil agar pengguna tidak merasa "diusir" secara paksa, sembari memberikan waktu bagi manufaktur untuk menggoda konsumen dengan perangkat berbasis AI terbaru.
Janji Manis Perbaikan dan Masalah yang Tersisa
.png)
Foto: gizbot.com
Pavan Davuluri, Presiden Windows dan Perangkat di Microsoft, menyadari adanya masalah reputasi serius pada Windows 11 yang sering dianggap berat dan tidak stabil. Ia berjanji akan fokus memperbaiki masalah performa, keandalan sistem, serta merombak elemen antarmuka lawas yang masih tertinggal dari era Windows 7 atau bahkan Windows XP. Fokus teknis ini diharapkan dapat meredam kemarahan komunitas power user yang sering kali merasa produktivitas mereka terhambat oleh bug visual dan sistem yang tidak konsisten.
Namun, janji ini dinilai belum menyentuh akar kekesalan pengguna yang paling mendalam, yakni masalah komersialisasi di dalam OS. Hingga saat ini, Microsoft belum memberikan solusi atas keluhan mengenai "paksaan" halus di dalam sistem. Masalah seperti notifikasi wajib login akun Microsoft, iklan layanan OneDrive dan Game Pass yang intrusif di menu Settings, hingga dorongan untuk terus menggunakan browser Edge dan Bing tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Microsoft harus berjuang ekstra keras agar Windows 11 tidak hanya dipakai karena "terpaksa" atau tidak ada pilihan lain, melainkan karena benar-benar memberikan kenyamanan serta privasi bagi penggunanya.
Baca juga: Windows Lemot? Ini Cara Bikin Lebih Kencang Tanpa Upgrade RAM atau SSD
Dominasi Windows 11 saat ini mungkin dipicu oleh minimnya alternatif platform yang sepadan bagi pengguna awam yang sudah terlanjur bergantung pada aplikasi native Windows. Namun, tantangan Microsoft ke depan adalah membuktikan bahwa OS mereka bisa dicintai secara tulus tanpa harus menyertakan fitur-fitur "iklan" yang menyebalkan bagi mata pengguna. Kesuksesan jangka panjang Windows akan sangat bergantung pada seberapa jauh raksasa Redmond ini mau menurunkan ego mereka dan benar-benar mendengarkan kritik miliaran penggunanya yang menginginkan sistem operasi bersih dan cepat serta menghargai pilihan pengguna.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(AA/ZA)