
Foto: Freepik/ kjpargeter
Teknologi.id - Penemuan medis inovatif dari Korea Selatan memberikan harapan baru dalam melawan kanker. Para peneliti dari Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) telah mengembangkan model kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) canggih yang dirancang untuk menciptakan vaksin kanker yang "dipersonalisasi". Tidak seperti pengobatan tradisional, teknologi ini bertujuan untuk melatih sistem imun tubuh untuk tidak hanya menyerang tumor, namun juga mengingatnya, sehingga mencegah kembalinya penyakit.
Mengubah Sel Kanker: Dari Ganas ke Normal

Foto: KAIST/ Dr. Younghyun Han, Dr. Chun-Kyung Lee, Prof. Kwang-Hyun Cho,Ph.D. candidate Hyunjin Kim.
Faktor paling luar biasa dari penelitian ini, yang dipimpin oleh Profesor Kwang-hyun Cho, adalah kemampuannya untuk mengubah sel kanker kembali menjadi sel biasa. Biasanya, pengobatan kanker berfokus pada membunuh sel ganas melalui kemoterapi atau radiasi, yang sering kali merusak jaringan yang sehat. Meski begitu, tim KAIST menemukan bahwa selama berkembangnya kanker usus, sel dapat di "reset" melalui proses sistematik.
Dengan menggunakan teknologi "digital twin", yaitu sebuah model komputer virtual dari jaringan genetik, para peneliti memetakan jalur rumit yang dilalui sel. Mereka menyadari bahwa dengan secara sistematis memicu ekspresi gen tertentu yang sebelumnya bermutasi atau dinonaktifkan, dapat mengembalikan sel kanker ke kondisinya yang sehat dan tidak ganas. Pendekatan ini dapat merevolusi onkologi dengan menawarkan alternatif yang lebih aman dari terapi konvensional, secara signifikan mengurangi efek samping menyakitkan dan risiko kebal pengobatan dengan menjaga sel tetap hidup daripada menghancurkannya.
Baca juga: Sintesis Verticillin A Berhasil! Peneliti MIT Temukan Kunci Basmi Kanker Otak
Kekuatan B-Cells: Menyerang dan Mengingat
Walaupun vaksin kanker tradisional sangat berfokus pada T-cells ("pasukan" yang menyerang kanker), tim Profesor Choi Jung-kyoon mengidentifikasi sebuah bagian penting yang hilang: B-cells. T-cells bekerja dengan baik dalam serangan langsung, namun sering kali kesulitan untuk menjaga ingatan jangka panjang dari kanker, itulah mengapa penyakit tersebut kembali dalam beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian.
Di sisi lain, B-cells memproduksi antibodi dan berperan sebagai badan intelijen tubuh. Mereka menciptakan "poster buronan" untuk sel kanker, yang mengizinkan sistem imun untuk menyimpan informasi tumor dalam waktu yang lama. "Ingatan imun yang dimediasi B-cell" ini merupakan kunci dari respon antitumor yang tahan lama dan berjangka panjang. Model AI yang baru dikembangkan ini merupakan penemuan pertama di dunia yang dapat memprediksi "neoantigen" (pecahan protein unik dari tumor pasien) yang akan memicu respon B-cells. Hal ini menciptakan pertahanan "berlapis ganda", di mana vaksinnya membantu tubuh untuk menyerang kanker sembari "mengajari" sistem imun cara untuk mengenali dan mengentikannya ketika kanker berusaha kembali.
Pengobatan yang Didukung Kekuatan AI
Platform AI ini bekerja dengan cara menganalisis pola struktural antara peptida mutan dan reseptor B-cell (BCRs). Dengan mempelajari interaksi kompleks ini, AI dapat memilih target paling efektif bagi setiap pasien dengan presisi matematis. Langkah menuju pengobatan yang "dipersonalisasi" ini memastikan bahwa vaksin disesuaikan secara khusus dengan pola unik genetik dari tumor spesifik seseorang, daripada menggunakan pendekatan "one-size-fits-all".
Teknologi ini sudah diintegrasikan ke dalam sebuah mesin pencarian yang disebut dengan "DeepNeo" yang dibuat perusahaan bioteknologi Neogenlogic. Sistem ini telah divalidasi menggunakan dataset genomic bersakala besar dan data uji klinis dari pemimpin vaksin global, membuktikan ketelitian ilmiahnya. Dengan mengukur seberapa baik mutasi kanker seorang pasien akan berhubungan dengan reseptor imun, AI menghilangkan unsur menduga-duga dalam merancang vaksin.
Baca juga: Wow! AI Baru Ini Prediksi Risiko Kanker Payudara Hingga 5 Tahun Lebih Awal
Jalur ke Uji Klinis Global di 2027
Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Science Advances, sekarang berangsur dari laboratorium ke klinik. Profesor Choi dan timnya saat ini sedang berada dalam fase praklinik, bekerja sama erat dengan Neogenlogic untuk menerjemahkan terobosan akademis ini menjadi platform berkualitas klinis yang memenuhi standar internasional.
Timnya saat ini sedang mempersiapkan pengajuan untuk obat baru yang sedang dalam penelitian (Investigational New Drugs/ IND) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/ FDA) Amerika Serikat. Tujuannya adalah untuk memulai uji klinis manusia di tahun 2027. Jika berhasil, vaksin berbasis AI ini akan mengubah kanker dari penyakit yang ditakuti dan berulang, menjadi kondisi yang dapat dikelola tubuh manusia secara alami, sehingga mampu melawan dan mengatasinya secara permanen. Hal ini berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa melalui imunisasi yang disesuaikan secara pribadi.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar