
Foto: Freepik
Teknologi.id - Tumbuh di tengah derasnya arus teknologi digital memang memberikan banyak kemudahan. Namun di balik semua itu, Generasi Z (Gen Z) juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Paparan konten tanpa henti, tuntutan produktivitas, hingga ekspektasi sosial yang tinggi membuat kondisi psikologis mereka semakin kompleks.
Sering kali Gen Z dilabeli sebagai generasi yang mudah rapuh. Padahal, realitanya mereka harus beradaptasi dengan lingkungan yang serba cepat, penuh distraksi, dan minim jeda. Tak heran jika berbagai istilah baru bermunculan untuk menggambarkan kondisi mental yang kini banyak dialami. Berikut delapan “penyakit” mental modern yang sering melekat pada Gen Z.
1. Doomscrolling dan Overstimulation
Doomscrolling terjadi saat seseorang terus-menerus mengonsumsi berita negatif, terutama di media sosial. Tanpa disadari, kebiasaan ini memicu rasa cemas, stres, bahkan ketakutan berlebih. Ditambah dengan notifikasi yang tak henti muncul, otak dipaksa berada dalam kondisi siaga terus-menerus. Kondisi overstimulation ini membuat sistem saraf kelelahan dan sulit untuk benar-benar rileks.
Baca juga: Mengenal Popcorn Brain: Alasan Kenapa Gen Z Sulit Fokus dan Cara Mengatasinya
2. Digital ADHD (Acquired Attention Deficit)
Banyak Gen Z merasa mudah terdistraksi dan sulit fokus dalam jangka panjang. Kondisi ini sering disebut sebagai Digital ADHD atau Acquired Attention Deficit. Berbeda dengan ADHD klinis, kondisi ini dipicu oleh kebiasaan menggunakan teknologi digital. Aplikasi yang dirancang untuk menarik perhatian membuat otak terbiasa berpindah-pindah fokus tanpa menyelesaikan satu hal secara utuh.
3. Burnout dan Brain Fry
Burnout kini bukan hanya masalah pekerja kantoran, tetapi juga banyak dialami Gen Z. Tekanan untuk selalu produktif dan “on” sepanjang waktu membuat energi mental terkuras. Dalam tahap yang lebih ekstrem, muncul istilah brain fry yaitu kondisi ketika otak terasa benar-benar “mati rasa” akibat kelelahan berlebih. Fokus hilang, motivasi menurun, dan bahkan tugas sederhana terasa sangat berat.
4. Brain Rot dan Kecanduan Dopamin
Fenomena brain rot menggambarkan kondisi ketika kemampuan berpikir menjadi tumpul akibat konsumsi konten digital yang dangkal dan berulang. Video pendek, scroll tanpa akhir, hingga konten hiburan instan memicu pelepasan dopamin secara terus-menerus.
Akibatnya, otak menjadi terbiasa dengan kepuasan instan. Dampaknya, fokus menurun drastis dan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi terasa semakin berat untuk dijalani.
5. Decision Fatigue dan Imposter Syndrome
Di era dengan pilihan tak terbatas, membuat keputusan justru menjadi melelahkan. Mulai dari memilih tontonan hingga menentukan karier, semuanya membutuhkan energi mental. Kondisi ini dikenal sebagai decision fatigue. Ketika digabungkan dengan paparan pencapaian orang lain di media sosial, muncullah imposter syndrome perasaan tidak percaya diri dan merasa tidak pantas atas pencapaian sendiri.
6. Revenge Bedtime Procrastination
Istilah ini menggambarkan kebiasaan menunda tidur demi “balas dendam” atas waktu siang yang terasa tidak bebas. Setelah seharian sibuk dengan pekerjaan atau tugas, malam hari menjadi satu-satunya waktu untuk diri sendiri. Sayangnya, waktu ini sering dihabiskan untuk scrolling, menonton, atau bermain game. Dampaknya, kualitas tidur menurun dan kelelahan semakin menumpuk keesokan harinya.
7. Loneliness dan Social Anxiety
Ironisnya, meskipun selalu terhubung secara digital, banyak Gen Z justru merasa kesepian. Interaksi virtual tidak sepenuhnya mampu menggantikan koneksi emosional di dunia nyata. Akibatnya, muncul kecemasan sosial atau social anxiety. Banyak individu merasa canggung, gugup, bahkan takut saat harus berinteraksi langsung dengan orang lain.
Baca juga: Awas! AI Kini Bisa Bongkar Identitas Asli 'Second Account' Gen Z
8. Popcorn Brain
Popcorn brain adalah kondisi ketika pikiran sulit diam dan terus “melompat” dari satu hal ke hal lain. Istilah ini menggambarkan otak yang terbiasa dengan stimulasi cepat dan instan. Multitasking berlebihan dan konsumsi konten singkat menjadi penyebab utama. Akibatnya, kemampuan fokus jangka panjang semakin menurun. Meski terdengar mengkhawatirkan, kondisi-kondisi ini bukan tanpa solusi. Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana untuk membantu memulihkan kesehatan mental:
- Membatasi penggunaan gadget, terutama sebelum tidur
- Melatih fokus melalui teknik seperti Pomodoro
- Melakukan mindfulness atau meditasi pernapasan
- Mengurangi konsumsi konten digital yang tidak bermanfaat
- Menjaga keseimbangan antara dunia digital dan interaksi nyata
Fokus, seperti otot, perlu dilatih agar tetap kuat. Dengan kesadaran dan kebiasaan yang lebih sehat, Gen Z tetap bisa beradaptasi di era digital tanpa harus mengorbankan kesehatan mental mereka.
Pada akhirnya, memahami kondisi ini bukan untuk memberi label negatif, melainkan sebagai langkah awal untuk menciptakan keseimbangan hidup yang lebih baik di tengah dunia yang serba cepat.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(ir/sa)

Tinggalkan Komentar