Ilmuwan Australia Temukan Cara Deteksi Risiko Kanker Kambuh Lewat Tes Darah

Irmanon Riandina . February 26, 2026


Foto: freepik

Teknologi.id - Terobosan baru di bidang onkologi datang dari Australia. Para ilmuwan berhasil mengembangkan tes darah sederhana yang berpotensi membantu memprediksi risiko kekambuhan kanker kepala dan leher setelah pasien menjalani operasi. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan pemantauan pascaoperasi dan memberikan perawatan yang lebih personal bagi pasien.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim dari Centenary Institute dan melibatkan kolaborasi dengan Chris O'Brien Lifehouse. Hasil studi mereka telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah European Journal of Surgical Oncology.

Mendeteksi Sel Tumor yang Beredar di Darah

Tes darah ini bekerja dengan mendeteksi keberadaan circulating tumor cells (CTC), yakni sel kanker yang terlepas dari tumor utama dan masuk ke aliran darah. Keberadaan sel-sel ini diyakini menjadi indikator bahwa kanker masih memiliki potensi untuk tumbuh kembali atau menyebar ke bagian tubuh lain. Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menganalisis sampel darah pasien setelah menjalani operasi pengangkatan tumor.

Mereka menemukan bahwa pasien yang memiliki CTC dalam darahnya cenderung memiliki risiko kekambuhan lebih tinggi dibandingkan pasien yang tidak menunjukkan keberadaan sel tersebut. Temuan ini membuka peluang untuk mengidentifikasi pasien berisiko tinggi sejak dini, bahkan sebelum gejala kekambuhan muncul atau terdeteksi melalui pemeriksaan pencitraan.

Baca juga: Terobosan Baru! Vaksin HIV Berbasis DNA Origami Bantu Imun Temukan Virus Bermutasi

Tantangan dalam Pemantauan Pascaoperasi

Kanker kepala dan leher merupakan jenis kanker yang menyerang lapisan mulut, tenggorokan, dan pita suara. Di Australia sendiri, sekitar 5.500 orang didiagnosis menderita kanker ini setiap tahunnya. Meski banyak pasien merespons pengobatan dengan baik, sebagian tetap mengalami kekambuhan setelah terapi awal, termasuk setelah operasi.

Selama ini, pemantauan pascaoperasi sangat bergantung pada pemeriksaan fisik rutin dan pemindaian seperti CT scan atau MRI. Namun, metode tersebut tidak selalu mampu mendeteksi tanda-tanda awal kekambuhan. Dalam banyak kasus, kanker baru teridentifikasi kembali ketika sudah berkembang lebih lanjut.

Menurut Jonathan Clark, yang juga menjabat sebagai Direktur Riset Kanker Kepala dan Leher di Chris O'Brien Lifehouse, sistem pemantauan saat ini masih memiliki keterbatasan dalam memprediksi risiko kekambuhan secara akurat. Karena itu, pendekatan tambahan seperti tes darah berbasis biomarker menjadi sangat menjanjikan.

Penulis utama studi, Dannel Yeo, menjelaskan bahwa deteksi CTC dapat memberikan informasi tambahan yang sangat berharga bagi dokter. Dengan mengetahui pasien mana yang memiliki risiko lebih tinggi, tim medis dapat merancang strategi pemantauan yang lebih intensif atau mempertimbangkan terapi tambahan jika diperlukan.

Pendekatan ini sejalan dengan tren pengobatan kanker modern yang semakin mengarah pada personalisasi terapi. Artinya, perawatan tidak lagi bersifat “satu untuk semua”, melainkan disesuaikan dengan karakteristik biologis masing-masing pasien.

Baca juga: Prosedur Medis Pertama di Dunia, Cangkok Kuping ke Kaki Berhasil Selamatkan Pasien

Potensi Besar di Masa Depan

Para peneliti menyebutkan bahwa temuan ini menambah bukti kuat mengenai peran penting biomarker berbasis darah dalam manajemen kanker. Jika dikembangkan lebih lanjut dan diuji dalam skala yang lebih besar, tes ini berpotensi menjadi bagian dari standar perawatan bagi pasien kanker kepala dan leher.  Tes darah ini dapat menjadi pelengkap yang memperkuat proses pengambilan keputusan medis.

Dengan inovasi ini, harapannya pasien tidak lagi harus menunggu munculnya gejala atau temuan pada hasil pemindaian untuk mengetahui adanya kekambuhan. Deteksi dini melalui tes darah bisa membuka peluang intervensi lebih cepat, sehingga meningkatkan peluang kesembuhan dan kualitas hidup pasien.

Perkembangan ini menunjukkan bagaimana riset ilmiah terus bergerak maju untuk menghadirkan solusi yang lebih presisi, efektif, dan berfokus pada kebutuhan individu pasien dalam melawan kanker.



Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News


(ir/sa)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar