Ajie Nikicio, Bikin Satelit di Negeri Orang hingga Ikut Proyek SpaceX

Teknologi.id . June 12, 2020

Ajie Nikicio

Foto: Instagram @ajienikicio


Teknologi.id - Membuat satelit dan mengikuti proyek dari perusahaan teknologi sebesar SpaceX dirasa hanya mimpi di siang bolong bagi sebagian orang.

Namun hal tersebut tak berlaku bagi Ajie Nayaka Nikicio, seorang putra bangsa yang kini tengah mengejar gelar masternya di System Design and Management di Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Ajie, sapaan akrabnya, pernah ikut serta dalam proyek pembuatan Satelit Galassia kala dirinya menempuh pendidikan sarjana di National University of Singapore (NUS).

Selain itu, di tengah kesibukannya berkuliah di MIT saat ini, Ajie pun turut andil dalam sebuah proyek kompetisi Hyperloop yang diadakan oleh SpaceX, hingga timnya berhasil memenangkan Innovation Award.

Baca juga: Andhika Sudarman, Pembicara Indonesia Pertama di Wisuda Harvard Law School

Minat Ajie di dunia teknik sendiri sudah mulai terpupuk sejak di bangku sekolah. Beberapa kali ia berkesempatan mengikuti lomba robotika, tak hanya di dalam negeri, bahkan hingga ke luar negeri.

Bahkan, pada tahun 2007 ketika berusia 14 tahun, dirinya sudah berpartisipasi dalam Olimpiade Robot Dunia di Taipei. Meskipun tidak memenangkan kejuaraan, pencapaian tersebut tentunya suatu hal yang besar mengingat dirinya yang masih berusia belia sudah membawa nama besar Indonesia di kejuaraan internasional.

Mewakili Indonesia untuk pertama kalinya dalam kompetisi internasional, World Robot Olympiad 2007. Foto: Indonesia Mengglobal


Memasuki jenjang perkuliahan, Ajie semakin menggenggam erat apa yang menjadi pasionnya, ia pun memilih jurusan engineering dan mengambil kurikulum khusus "Design-Centric Program", yang mengantarkannya masuk ke kurikulum Desain Sistem Antariksa (Space Systems Design) di NUS, yang pada saat itu baru pertama kali diadakan.

Di sana ia belajar hal-hal mengenai komponen satelit, struktur, komunikasi, sistem kendali, sampai ke peluncuran dan pengoperasian satelit.

Baca juga: Irmandy Wicaksono, Orang Indonesia di Balik Teknologi "Saving Face" MIT

Membuat satelit

Pada tahun keempat, Ajie berkesempatan untuk mengikuti proyek NUS dalam pembuatan dan peluncuran satelit kecil, bernama Galassia.

Galassia yang biaya pembuatannya mencapai ratusan ribu dollar, akhirnya berhasil diluncurkan dari Satish Dhawan Space Center di Sriharikota, India dan berhasil mencapai orbit tujuan pada 550 Km di atas permukaan laut.

Berpose bersama Galassia untuk terakhir kalinya sebelum dikirim ke India. Foto: Indonesia Mengglobal


Baca juga: Hand Solo, Remaja yang Buat Tangan Palsunya Sendiri dari LEGO



















Proyek SpaceX

Setelah menyelesaikan studinya dan menempuh karir riset selama tiga tahun di Satellite Technology and Research Centre NUS, Ajie pun melanjutkan pendidikan S-2 di MIT. Di situlah ia mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam sebuah proyek kompetisi yang diadakan oleh perusahaan milik Elon Musk, SpaceX.

Tujuan dari proyek kompetisi tersebut adalah membuat prototype teknologi Hyperloop paling cepat. Hyperloop sendiri adalah teknologi pembuatan kereta super cepat di dalam terowongan vakum yang berkecepatan mencapai 1000km/jam, jauh lebih cepat bila dibandingkan kereta peluru di Jepang yang hanya mencapai 320km/jam.

Tim perwakilan MIT dimana Ajie bertindak sebagai Lead Electrical Engineer, berhasil menyabet gelar Innovation Award pada kompetisi tersebut berkat teknologi Air Bearing, yang melayangkan kereta menggunakan semburan udara.

Berpose dengan pod (kapsul) hyperloop MIT. Foto: Indonesia Mengglobal


Baca juga: 3 Perempuan Indonesia Inspiratif di Dunia Teknologi dan Bisnis

Pesan bagi generasi muda

Ajie berpesan, bagi generasi muda yang ingin belajar dan menekuni industri space atau antariksa, untuk dapat mulai mempelajari dasar-dasarnya dari teknik elektro, teknik mesin, dan teknik informatika.

Dengan mempelajari dasar-dasar tersebut, peluang untuk masuk dan bekerja di LAPAN akan semakin besar, karena LAPAN telah meluncurkan tiga satelit buatan dalam negeri dan sedang mengembangkan proyek-proyek satelit yang lebih canggih lagi.


Ajie bersama Wahyudi Hasbi, pelopor program satelit Indonesia di Pusat Kontrol Misi LAPAN di Bogor. Foto: Indonesia Mengglobal


Namun bagi yang tidak memiliki dasar di bidang teknik, Ajie menyebut peluang untuk bergabung di sektor industri antariksa tetaplah besar, karena industri antariksa seperti industri lainnya adalah sebuah ekosistem yang membutuhkan ahli bisnis, marketing, human resource development, hukum, desain grafis dan sebagainya layaknya sebuah perusahaan yang butuh berbagai bidang untuk beroperasi.

Dengan masih mudanya industri antariksa di Indonesia, Ajie juga mengajak generasi muda untuk berani mengambil jalur kewirausahaan untuk memajukan industri ini. Masih sangat besar peluang bagi generasi muda untuk ikut serta sekaligus menciptakan lapangan kerja dan mentransformasi perekonomian Indonesia di era Industri 4.0 ini.

(dwk)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar