Mark Zuckerberg Borong 11 Rumah Mewah di Palo Alto, Tetangga Ngamuk!

Amira Talida Ramadhina . August 20, 2025
Foto: New York Post


Teknologi.id – Mark Zuckerberg, CEO Meta sekaligus pendiri Facebook, kembali jadi sorotan publik. Kali ini bukan karena gebrakan teknologi baru yang ia ciptakan, melainkan gaya hidup mewah yang ditunjukkannya lewat kepemilikan properti. Zuckerberg diketahui memiliki deretan rumah mewah yang tersebar di kawasan elit Amerika Serikat, khususnya di Palo Alto, California.

Menurut laporan, Zuckerberg saat ini telah mengoleksi 11 rumah mewah di kompleks Crescent Park, Palo Alto. Total nilai propertinya mencapai ratusan juta dolar AS. Namun, kepemilikan rumah dalam jumlah besar ini justru menimbulkan polemik. Para tetangga menilai Zuckerberg telah “menguasai” kawasan perumahan tersebut, sehingga memicu keluhan dan kritik dari warga sekitar.

Baca juga: Mark Zuckerberg Ungkap Meta AI Kini Bisa Belajar Mandiri, Menuju Super Intelligence

Rincian Harga Rumah Mark Zuckerberg dari Tahun ke Tahun

Kisah kepemilikan rumah mewah Zuckerberg dimulai pada tahun 2011. Bersama istrinya, Priscilla Chan, ia terus menambah koleksi propertinya hingga mencapai 11 unit. Berikut rinciannya:

  • 2011 – Membeli rumah pertama seharga 7 juta dolar AS (Rp112 miliar).

  • 2012 – Membeli rumah kedua senilai 4,8 juta dolar AS (Rp77,3 miliar).

  • 2013 – Menambah 3 rumah sekaligus dengan harga:

    • 10,5 juta dolar AS (Rp169 miliar)

    • 14 juta dolar AS (Rp225 miliar)

    • 14,5 juta dolar AS (Rp233 miliar)

  • 2022 – Membeli rumah tambahan senilai 5,7 juta dolar AS (Rp92 miliar).

  • 2024 – Kembali membeli 3 rumah dengan harga:

    • 12,3 juta dolar AS (Rp198 miliar)

    • 10,75 juta dolar AS (Rp173 miliar)

    • 9,5 juta dolar AS (Rp153 miliar)

  • 2025 – Menambah 2 rumah mewah dengan total nilai 23 juta dolar AS (Rp371 miliar). Salah satunya berjarak hanya dua rumah dari kediaman utamanya.

Secara keseluruhan, dalam kurun waktu 14 tahun, Zuckerberg berhasil mengoleksi 11 unit rumah mewah di satu kompleks yang sama. Sebagian besar rumah tersebut telah direnovasi menjadi wisma tamu, dengan fasilitas lengkap seperti kolam renang, ruang hijau pribadi, hingga taman yang dihiasi patung Priscilla Chan.

Kritik dari Tetangga di Palo Alto

Meski terlihat megah, kepemilikan rumah sebanyak itu tidak lepas dari kritik. Para tetangga Zuckerberg mengeluhkan proyek renovasi yang dilakukan terus-menerus, menimbulkan kebisingan, serta mengganggu kenyamanan lingkungan. Beberapa warga bahkan menuding adanya penyalahgunaan izin bangunan, karena salah satu properti miliknya dikabarkan dialihfungsikan menjadi sekolah swasta untuk 14 anak. Hal ini dianggap melanggar aturan kerja di kawasan pemukiman.

Menanggapi keluhan tersebut, juru bicara Zuckerberg, Aaron Mclear, menyatakan bahwa sang bos Meta telah berupaya meminimalkan gangguan yang timbul akibat renovasi dan penggunaan properti. Namun, protes warga tetap tidak bisa dihindari mengingat skala kepemilikan yang begitu besar di lingkungan terbatas.

Properti Zuckerberg di Hawaii Juga Menuai Sorotan

Selain di Palo Alto, Zuckerberg juga memiliki properti besar lainnya di Pulau Kauai, Hawaii. Total luas tanah yang ia kuasai di kawasan tersebut mencapai 2.300 hektar, termasuk lahan perkebunan seluas 1.000 hektar yang ia beli beberapa tahun lalu.

Kepemilikan tanah luas ini pun kembali menuai kontroversi. Warga setempat menilai bahwa pengembangan properti Zuckerberg berpotensi mengganggu area pemakaman leluhur yang berada di lahan tersebut. Kritik juga muncul karena banyak masyarakat Hawaii khawatir akan kehilangan akses ke beberapa bagian tanah yang sebelumnya digunakan secara bebas.

Brandi Hoffine, juru bicara Zuckerberg lainnya, menegaskan bahwa tanah di Hawaii difokuskan untuk konservasi lingkungan dan pertanian berkelanjutan. Namun, pernyataan ini belum sepenuhnya meredam kritik dari masyarakat lokal yang merasa hak-hak mereka terpinggirkan.

Baca juga: Zuckerberg: Kacamata AI Akan Gantikan Smartphone, Siapkah Kamu?

Mark Zuckerberg dan Citra Publik

Kepemilikan rumah dan lahan dalam jumlah besar ini semakin menyoroti gaya hidup Mark Zuckerberg sebagai miliarder teknologi. Di satu sisi, keberhasilan finansialnya membuat ia mampu membeli properti mewah tanpa hambatan. Namun di sisi lain, citra Zuckerberg di mata publik menjadi semakin kontras: seorang inovator teknologi yang ingin “menghubungkan dunia”, tetapi di saat bersamaan dinilai mengisolasi dirinya dari lingkungan sekitar melalui properti-properti megah yang ia kuasai.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa kehidupan pribadi para tokoh besar Silicon Valley tidak selalu mulus. Kekayaan dan kekuasaan sering kali memicu gesekan sosial dengan masyarakat di sekitarnya, seperti yang kini dialami Zuckerberg di Palo Alto maupun di Hawaii.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(atr)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar