
Teknologi.id – Dalam sejarah perkembangan teknologi, garis batas antara "jenius" dan "gagal total" sering kali sangat tipis. Setiap tahunnya, ribuan paten didaftarkan dan ratusan purwarupa dipamerkan dengan janji akan mengubah cara manusia hidup. Namun, realitas pasar adalah hakim yang kejam. Tidak semua ide brilian memiliki nasib mujur seperti iPhone atau internet nirkabel (Wi-Fi).
Banyak produk yang di atas kertas tampak sangat canggih dan futuristik, namun pada akhirnya harus terkubur di "kuburan teknologi" karena berbagai alasan—mulai dari skandal manajemen, ketidaksiapan infrastruktur, hingga sekadar tidak fungsional. Berikut adalah analisis mendalam mengenai lima produk canggih yang sempat membuat heboh dunia namun berakhir tragis dan menghilang dari pasaran.
1. Razer Zephyr: Masker "Cyberpunk" yang Tersandung Skandal

Foto: Youtube/HardwareCanuks
Ketika pandemi global melanda dunia pada tahun 2020, kebutuhan akan masker wajah melonjak drastis. Melihat peluang ini, produsen perangkat gaming ternama, Razer, meluncurkan Razer Zephyr. Produk ini bukan masker biasa; ia didesain dengan estetika futuristik ala cyberpunk, lengkap dengan lampu RGB yang bisa menyala, kipas sirkulasi udara aktif, dan bagian mulut transparan agar ekspresi pengguna tetap terlihat.
Awalnya, masker yang dijual seharga 99 dolar AS (sekitar Rp1,6 juta) ini laku keras dan menjadi simbol status bagi para penggemar teknologi. Razer mengklaim masker ini menggunakan filter setara N95 yang mampu menyaring 99% partikel udara. Namun, klaim inilah yang menjadi lonceng kematiannya.
Investigasi menemukan bahwa Zephyr tidak pernah mendapatkan sertifikasi resmi N95 dari lembaga kesehatan berwenang (NIOSH). Hal ini memicu kemarahan publik dan tuntutan hukum. Komisi Perdagangan Federal AS (FTC) akhirnya menjatuhkan denda besar karena dinilai melakukan penipuan pemasaran (deceptive marketing). Akibat publisitas buruk dan hilangnya kepercayaan konsumen, masker canggih ini ditarik dari peredaran dan kini hanya menjadi barang koleksi langka yang kontroversial.
2. Meowlingual: Ambisi Menerjemahkan Bahasa Kucing

Foto: Japan Trend Shop
Jepang dikenal sebagai negara dengan inovasi unik yang kadang tak terpikirkan oleh orang lain. Pada tahun 2003, sebuah perusahaan Jepang merilis Meowlingual, sebuah perangkat genggam yang diklaim mampu menerjemahkan bahasa kucing ke dalam bahasa manusia.
Alat ini bekerja dengan cara menganalisis suara mengeong mereka, lalu menampilkannya dalam frasa seperti "Aku lapar" atau "Aku kesal" di layar LCD. Konsep ini tentu sangat menarik bagi para pecinta hewan (anabul) yang penasaran dengan apa yang dipikirkan peliharaan mereka.
Sayangnya, Meowlingual gagal bertahan lama. Masalah utamanya adalah akurasi dan nilai guna jangka panjang. Terjemahan yang dihasilkan sering kali terasa acak dan lebih bersifat hiburan semata (gimmick) daripada alat komunikasi ilmiah. Selain itu, dengan harga yang cukup mahal pada masanya (sekitar 75 dolar AS), konsumen merasa alat ini tidak memberikan manfaat yang sepadan setelah rasa penasaran awal mereka terpuaskan.
3. Skyship: Mimpi Piring Terbang Raksasa

Foto: Airship
Pada tahun 1975, seorang desainer visioner asal Inggris bernama John West mencoba merealisasikan fantasi fiksi ilmiah menjadi kenyataan dengan menciptakan Skyship. Berbeda dengan pesawat terbang konvensional, Skyship berbentuk piring terbang raksasa (cakram) yang diisi dengan gas helium untuk daya angkat, dibantu oleh serangkaian baling-baling untuk manuver.
Visi West adalah menciptakan alat transportasi kargo udara yang efisien dan bisa mendarat di mana saja tanpa butuh landasan pacu panjang. Namun, proyek ambisius ini menabrak dinding realitas teknis dan finansial.
Ukuran Skyship yang masif membuatnya sangat rentan terhadap kondisi cuaca buruk dan angin kencang. Selain itu, biaya riset dan pengembangan yang membengkak tidak sebanding dengan minat investor saat itu. Material yang tersedia pada era 70-an juga belum cukup kuat dan ringan untuk menopang struktur cakram raksasa tersebut secara aman. Skyship akhirnya hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah penerbangan, sebuah mimpi indah yang gagal lepas landas secara komersial.
Baca juga: Terobosan Baru! Finlandia Kembangkan Teknologi Listrik Tanpa Kabel
4. Skully AR-1: Helm Pintar yang "Dirampok" Pendirinya Sendiri

Foto: Skully
Di antara semua kegagalan teknologi, kisah Skully mungkin adalah yang paling tragis dan memalukan. Skully AR-1 adalah helm motor pintar yang dilengkapi dengan Heads-Up Display (HUD) di kaca visor, kamera belakang 180 derajat, dan integrasi GPS. Helm ini menjanjikan pengalaman berkendara ala "Iron Man" bagi para pemotor.
Kampanye penggalangan dana (crowdfunding) di Indiegogo sukses besar, mengumpulkan jutaan dolar dari ribuan pemesan yang antusias. Namun, helm tersebut tidak pernah sampai ke tangan mayoritas pemesan.
Perusahaan ini bangkrut pada tahun 2016 di tengah skandal penyalahgunaan dana. Para pendirinya dilaporkan menggunakan uang perusahaan untuk gaya hidup mewah, termasuk membeli mobil sport dan menyewa penari telanjang, alih-alih untuk produksi massal. Meskipun aset perusahaan sempat dibeli oleh pihak lain yang mencoba menghidupkannya kembali, nama Skully sudah terlanjur cacat. Kompleksitas teknis dan hilangnya kepercayaan pasar membuat helm pintar ini mati sebelum sempat merajai jalanan.
5. LiFi: Internet Cahaya yang Kalah oleh Tembok

Foto: Wikipedia
Kita semua mengenal WiFi, namun pernahkah Anda mendengar LiFi (Light Fidelity)? Teknologi ini digadang-gadang sebagai penerus WiFi dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. LiFi menggunakan kedipan cahaya lampu LED yang sangat cepat (tidak terlihat mata manusia) untuk mengirimkan data.
Secara teori, LiFi mampu mentransfer data 100 kali lebih cepat daripada WiFi standar. Namun, mengapa kita belum menggunakannya di rumah-rumah? Jawabannya terletak pada keterbatasan fisik cahaya itu sendiri.
Berbeda dengan gelombang radio WiFi yang bisa menembus tembok, cahaya LiFi tidak bisa menembus dinding. Artinya, koneksi internet akan terputus begitu Anda keluar dari ruangan atau sekadar memasukkan ponsel ke dalam saku (karena sensor tertutup). Selain itu, lampu harus terus menyala agar internet terhubung, yang tentu tidak praktis untuk penggunaan di malam hari saat tidur. Keterbatasan jangkauan dan mobilitas ini membuat LiFi sulit bersaing dengan ekosistem WiFi yang sudah matang dan fleksibel.
Baca juga: WiFi Lemot? Jangan-Jangan Ada Penumpang Gelap! Ini Cara Cek dan Blokir Pencuri WiFi
Pelajaran dari Kegagalan
Kelima produk di atas mengajarkan bahwa inovasi bukan hanya soal kecanggihan fitur. Kesuksesan sebuah produk teknologi sangat bergantung pada ketepatan waktu (timing), eksekusi bisnis yang jujur, serta kemampuan menjawab masalah nyata tanpa menciptakan masalah baru (seperti LiFi yang terhalang tembok). Hingga elemen-elemen ini terpenuhi, ide-ide futuristik tersebut hanya akan menjadi artefak sejarah yang menarik untuk dikenang.
Baca berita dan artikel lainnya di Google News
(WN/ZA)

Tinggalkan Komentar