
Foto: Freepik/ wirestock
Teknologi.id - Langit Indonesia bersiap menyambut salah satu pertunjukan alam paling memukau tahun ini. Pada tanggal 3 Maret 2026, fenomena astronomi langka berupa Gerhana Bulan Total akan menyapa masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Peristiwa yang sering disebut sebagai Blood Moon atau Bulan Berdarah ini menjadi sangat spesial karena Bulan akan tampak berwarna merah tembaga yang dramatis saat memasuki bayangan inti Bumi.
Fenomena ini merupakan bagian dari siklus Saros 133 yang berulang secara berkala. Secara ilmiah, gerhana Bulan total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus sempurna. Hal ini menyebabkan bayangan inti Bumi yang disebut umbra menutupi seluruh permukaan Bulan. Namun, Bulan tidak menghilang sepenuhnya melainkan berubah warna menjadi merah akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Cahaya dengan spektrum merah berhasil lolos dan mencapai permukaan Bulan, memberikan efek visual yang mempesona.
Baca juga: Siap-siap! Fenomena 3 Gerhana Matahari Langka Bakal Hiasi Langit Mulai 2026
Durasi Totalitas dan Keistimewaan Gerhana 2026
Salah satu daya tarik utama dari gerhana kali ini adalah durasi fase totalitasnya yang berlangsung cukup lama, yakni sekitar 58 hingga 59 menit. Durasi hampir satu jam ini memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk menikmati perubahan warna Bulan tanpa perlu terburu-buru. Selain itu, fenomena 3 Maret 2026 merupakan gerhana Bulan total terakhir yang bisa disaksikan hingga 31 Desember 2028. Artinya, setelah momen ini berlalu, masyarakat harus menunggu hampir tiga tahun untuk kembali melihat Bulan berubah menjadi merah.
Bagi umat Muslim di Indonesia, fenomena ini terasa kian istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan salat gerhana di sela aktivitas ibadah bulan puasa. Keistimewaan lainnya adalah waktu kejadiannya yang sangat bersahabat karena berlangsung sejak waktu magrib hingga malam hari, sehingga tidak mengharuskan warga terjaga hingga dini hari.
Jadwal Lengkap dan Waktu Puncak di Indonesia
Berdasarkan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), seluruh rangkaian gerhana akan berlangsung selama kurang lebih 5 jam 39 menit. Berikut adalah rincian waktu penting untuk pengamatan di berbagai zona waktu Indonesia:
Waktu Indonesia Barat (WIB)
Fase gerhana penumbra dimulai pada pukul 15.44 WIB, namun Bulan baru mulai memasuki bayangan sebagian pada pukul 16.50 WIB. Fase totalitas yang paling dinanti dimulai pada pukul 18.04 WIB dan berakhir pada 19.02 WIB. Adapun puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 18.34 WIB.
Waktu Indonesia Tengah (WITA)
Bagi wilayah tengah Indonesia, gerhana sebagian dimulai pada 17.50 WITA. Fase totalitas akan berlangsung mulai pukul 19.04 WITA dengan puncaknya pada pukul 19.33 WITA, dan berakhir pada 20.02 WITA.
Waktu Indonesia Timur (WIT)
Di wilayah timur, Bulan sudah cukup tinggi saat gerhana terjadi. Fase sebagian dimulai pukul 18.50 WIT, disusul fase totalitas pada pukul 20.04 WIT. Puncak gerhana di wilayah ini terjadi pada pukul 20.33 WIT dan berakhir pada 21.02 WIT.
Baca juga: Siapkan Rp4 Miliar! Booking Hotel di Bulan Kini Resmi Dibuka untuk Umum
Lokasi Pengamatan dan Tips Melihat Blood Moon

Foto: Freepik/ wirestock
Seluruh wilayah Indonesia berpeluang menyaksikan fenomena ini selama kondisi cuaca cerah dan langit tidak tertutup awan tebal. Selain Indonesia, wilayah Asia Timur, Australia, kawasan Pasifik, hingga sebagian Amerika juga berkesempatan melihat fase totalitas ini. Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan total sepenuhnya aman diamati dengan mata telanjang tanpa alat pelindung khusus.
Untuk mendapatkan pengalaman visual maksimal, masyarakat disarankan memilih lokasi yang minim polusi cahaya, seperti lapangan terbuka, pantai, atau dataran tinggi. Penggunaan alat bantu seperti teropong atau teleskop akan sangat membantu untuk melihat detail kontur permukaan Bulan dan gradasi warna merah yang lebih tajam. Bagi para pencinta fotografi, penggunaan tripod sangat disarankan agar hasil jepretan Blood Moon tetap stabil dan jernih. Fenomena ini menjadi pengingat bagi kita tentang keagungan alam semesta yang selalu menyajikan kejutan luar biasa bagi penghuni Bumi.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar