
Foto: Teknologi.id/ Yasmin Najla Alfarisi
Teknologi.id - Wacana untuk menghapus akun Facebook baru-baru ini mencuat dan menjadi perbincangan hangat. Hal ini dipicu oleh kabar mengenai rencana Meta yang ingin menggunakan data pribadi pengguna untuk melatih mesin kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) milik perusahaannya. Raksasa media sosial ini dilaporkan tengah mencari jalan formal untuk memproses data tersebut melalui pengajuan paten teknologi yang cukup kontroversial.
Berdasarkan laporan Dexerto yang dikutip dari Business Insider, Meta berupaya mematenkan penggunaan model bahasa besar atau Large Language Model (LLM) untuk tujuan yang tidak biasa. Teknologi ini dirancang untuk menciptakan persona digital dari pengguna yang telah meninggal dunia. Langkah ini dinilai sebagai upaya Meta untuk membuat jejak digital penggunanya menjadi abadi melalui perantara teknologi mesin.
Baca juga: Riset Harvard Ungkap Sisi Gelap AI: Bikin Karyawan Makin Sibuk dan Stres
Ambisi Meta Menghidupkan Kloning Digital
Teknologi yang sedang dijajaki Meta ini jauh berbeda dengan fitur lama yang sekadar membekukan akun seseorang yang telah wafat. Dalam dokumen paten yang diajukan, Meta berencana menggunakan data spesifik pengguna seperti riwayat komentar, konten yang disukai, gaya bahasa, hingga pola interaksi masa lalu. Data tersebut diolah untuk menciptakan sebuah klon digital yang akurat.
Nantinya, AI tersebut dapat meniru cara berinteraksi pengguna aslinya secara mandiri. Hal ini termasuk memberikan reaksi pada unggahan teman, membalas komentar di timeline, hingga merespons pesan singkat melalui Direct Message (DM). Andrew Bosworth, yang menjabat sebagai CTO Meta, tercatat sebagai penulis utama dalam dokumen paten yang sebenarnya sudah mulai diajukan sejak tahun 2023 tersebut.
Meta memberikan argumen bahwa teknologi ini lahir untuk menjaga pengalaman pengguna lain yang ditinggalkan. Perusahaan percaya bahwa ketika seorang pengguna berhenti aktif karena meninggal dunia, para pengikut dan kerabat dekatnya akan merasakan dampak emosional yang berat. Kehadiran simulasi AI ini diharapkan bisa mengisi kekosongan tersebut agar interaksi di platform tetap berjalan seolah-olah subjek aslinya masih ada.
Ekspansi ke Simulasi Suara dan Video
Pengembangan teknologi ini rupanya tidak terbatas pada interaksi berbasis teks saja. Paten Meta juga mereferensikan kemampuan teknologi yang memungkinkan AI untuk mensimulasikan panggilan video maupun panggilan audio. Dengan data suara dan gambar yang diunggah pengguna selama bertahun-tahun, AI mampu menciptakan replika identitas yang sangat mirip dengan aslinya.
Kemampuan semacam ini memang sudah mulai umum di industri teknologi. Sebagai perbandingan, platform Seedance milik ByteDance juga diketahui memiliki kemampuan luar biasa dalam menciptakan visual dan suara manusia secara sempurna. Meta sendiri sangat agresif dalam perlombaan ini dengan persiapan investasi raksasa mencapai US$140 miliar atau sekitar Rp2,3 kuadriliun untuk pengembangan AI sepanjang tahun 2026.
Baca juga: Meta Rilis Fitur AI Live Portrait, Ubah Foto Diam Jadi Gambar Bergerak yang Dinamis
Fenomena Grief Tech dan Persaingan Global

Foto: Tangkapan layar YouTube Justin Harrison
Apa yang dilakukan Meta masuk ke dalam kategori baru yang disebut sebagai Grief Tech atau teknologi duka. Beberapa perusahaan rintisan sudah lebih dulu bergerak di bidang ini, seperti Replika dan You, Only Virtual (YOV). Bahkan, Microsoft juga sudah mematenkan chatbot yang bisa mensimulasikan orang meninggal sejak tahun 2021.
Mark Zuckerberg dalam wawancaranya di tahun 2023 pernah menyinggung bahwa berinteraksi dengan memori digital bisa menjadi alat bantu dalam proses pemulihan duka. Namun, keterlibatan Meta sebagai perusahaan dengan miliaran basis data pengguna tentu membawa dampak yang jauh lebih besar dan memicu kekhawatiran mengenai kedaulatan data pribadi setelah kematian.
Kontroversi Etika dan Alasan Hapus Akun
Munculnya ajakan untuk menghapus akun Facebook didasari oleh ketakutan akan hilangnya privasi setelah seseorang tiada. Edina Harbinja, profesor hukum dari University of Birmingham, menyatakan bahwa hal ini menyentuh isu hukum yang sangat sensitif. Pertanyaannya adalah apakah adil jika data seseorang digunakan secara komersial oleh sebuah perusahaan selamanya tanpa persetujuan eksplisit dari mendiang.
Sosiolog Joseph Davis dari University of Virginia menilai bahwa menghadirkan simulasi orang yang sudah meninggal justru dapat mengganggu proses berduka yang sehat. Ia menegaskan agar membiarkan orang yang sudah meninggal tetap berada dalam ketenangan tanpa harus dipaksa hadir lewat mesin.
Selain masalah duka, alasan utama munculnya ajakan menghapus akun adalah kekhawatiran bahwa setiap aktivitas digital pengguna akan terus dipanen untuk kepentingan perusahaan selamanya. Meskipun juru bicara Meta menyatakan belum ada rencana pasti untuk mengimplementasikannya, keberadaan paten tersebut sudah cukup menjadi peringatan bagi pengguna mengenai bagaimana data mereka akan dikelola di masa depan.
Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.
(yna/sa)

Tinggalkan Komentar