Sumber: fran innocenti / Unsplash
Teknologi.id – Di tengah revolusi besar yang dipicu oleh kecerdasan buatan (AI), semakin banyak CEO raksasa teknologi yang mulai mempertanyakan pentingnya gelar sarjana sebagai syarat mutlak untuk sukses. Pendidikan tinggi memang bernilai, tetapi kini bukan lagi satu-satunya jalan untuk meniti karier di industri teknologi modern.
Fenomena ini bukan hal baru. Sejarah sudah membuktikan, banyak tokoh besar seperti Steve Jobs, Bill Gates, hingga Mark Zuckerberg yang berhasil mencetak sejarah meski tak pernah menuntaskan kuliahnya. Kini, di era AI yang mengubah pola kerja dengan cepat, pandangan kritis terhadap "keharusan kuliah" semakin menguat.
Baca juga: Korea Selatan Larang Siswa Pakai HP di Sekolah Mulai 2026, Alasannya Bikin Kaget!
Alex Karp: Gelar Bukan Segalanya di Palantir
CEO Palantir, Alex Karp, dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak peduli karyawannya berasal dari universitas mana, bahkan apakah mereka kuliah atau tidak.
“Begitu Anda masuk ke Palantir, karier Anda sudah terbuka. Tidak ada yang peduli apakah Anda dari Harvard, Princeton, Yale, atau bahkan tidak kuliah,” ujar Karp.
Menurutnya, bekerja langsung di Palantir justru bisa dianggap sebagai “kredensial terbaik di dunia teknologi.” Pesannya jelas: pengalaman nyata dan keterampilan relevan lebih berharga dibanding nama kampus di ijazah.
Tim Cook: Kolaborasi dan Skill Lebih Penting daripada Ijazah
Pandangan serupa juga datang dari Tim Cook, CEO Apple. Sejak 2019, Cook menyebut bahwa setidaknya separuh pekerja Apple di AS tidak memiliki gelar sarjana empat tahun.
Ia menilai ada jurang besar antara keterampilan yang diajarkan kampus dengan kebutuhan industri. Cook menekankan bahwa kemampuan kolaborasi, rasa ingin tahu, dan skill teknis seperti coding sering kali jauh lebih penting daripada selembar ijazah. Dalam wawancara 2023, ia kembali menegaskan bahwa gelar sarjana bukanlah syarat mutlak untuk bekerja di Apple.
Jensen Huang: Kalau Bisa Ulang Kuliah, Pilih Jurusan Lain
CEO Nvidia, Jensen Huang, punya pandangan unik. Ia tetap menghargai pendidikan formal, tetapi mengaku jika bisa kembali kuliah, ia akan memilih jurusan fisika atau kimia alih-alih teknik elektro.
Alasannya, kedua bidang tersebut kini semakin relevan dalam era komputasi modern dan AI. Menurut Huang, memahami hukum dasar alam semesta bisa membuka perspektif baru dalam mengembangkan teknologi masa depan.
Pesan Huang jelas: dunia teknologi tidak hanya lahir dari satu disiplin, tetapi dari kolaborasi lintas ilmu. Generasi muda sebaiknya berani mengeksplorasi berbagai bidang ilmu yang berpotensi besar di masa depan.
Dari Dropout ke Legenda Teknologi
Jejak para legenda teknologi juga memperkuat pandangan ini. Steve Jobs pernah menilai kuliah justru membatasi kreativitas, sementara Bill Gates mengaku menyesal dropout terlalu cepat dari Harvard meski akhirnya sukses membangun Microsoft.
Artinya, keputusan untuk meninggalkan kuliah bukan hal yang sederhana. Gates menekankan, dropout hanya masuk akal dalam kasus luar biasa, sementara pendidikan formal tetap memiliki nilai penting.
Baca juga: ChatGPT Dituduh Ajarkan Remaja untuk Bunuh Diri, OpenAI Digugat!
Gelar Sarjana: Penting, Tapi Bukan Satu-Satunya
Fenomena ini menegaskan bahwa gelar sarjana tidak lagi menjadi tiket emas menuju karier impian di industri teknologi. Perusahaan kini lebih menghargai:
-
Keterampilan nyata dan relevan
-
Pengalaman praktis
-
Kemampuan beradaptasi dengan teknologi baru
Apalagi dengan kehadiran AI yang terus mengubah lanskap pekerjaan, skill dan inovasi menjadi modal utama untuk bersaing.
Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.
(mo)
Tinggalkan Komentar