Internet Iran Lumpuh Total, Tersisa 4% Usai Diserang AS-Israel

Wildan Nur Alif Kurniawan . March 02, 2026


Foto: AFP

Teknologi.id – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kini tidak hanya membumihanguskan infrastruktur fisik, tetapi juga meruntuhkan urat nadi komunikasi digital sebuah negara secara instan. Menyusul gempuran udara berskala masif yang dilancarkan oleh militer Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), akses internet di seluruh wilayah Republik Islam Iran dilaporkan mengalami kelumpuhan total.

Serangan militer gabungan ini tidak sekadar menargetkan fasilitas pengembangan senjata, melainkan secara sistematis memutus konektivitas Iran dari dunia luar. Pemadaman jaringan yang dramatis ini menciptakan "kiamat internet" sektoral, mengisolasi puluhan juta warga sipil sekaligus membungkam arus pergerakan informasi di tengah situasi perang yang sangat mematikan.

Bagi Anda yang terus memantau dinamika perang siber (cyber warfare) dan imbas eskalasi militer global ini, berikut adalah analisis mendalam mengenai kronologi kelumpuhan internet di Iran, detail sandi operasi gabungan AS-Israel, hingga dampaknya terhadap tatanan internasional.

1. Bukti Pemutusan Akses: Sisa Konektivitas Hanya 4 Persen


Foto: X/@NetBlocks

Konfirmasi teknis mengenai pemadaman internet berskala nasional ini pertama kali dipublikasikan oleh lembaga pemantau independen kebebasan internet global, NetBlocks. Melalui pemantauan telemetri real-time, metrik telekomunikasi Iran menunjukkan grafik terjun bebas hanya beberapa saat setelah gempuran udara dimulai.

Data terbaru NetBlocks mencatat bahwa tingkat konektivitas internet harian di Iran merosot secara tajam hingga hanya menyisakan 4 persen dari total kapasitas normal. Hal ini mengindikasikan bahwa 96 persen jaringan serat optik, lalu lintas routing data, dan gerbang koneksi internasional negara tersebut mati total.

Para pakar keamanan siber melihat adanya korelasi mekanis secara langsung antara ledakan fisik di lapangan—yang diduga kuat menghancurkan infrastruktur sentral jaringan data nasional—dengan hilangnya sinyal di perangkat komunikasi warga. Kelumpuhan ini praktis menutup rapat keran informasi, membuat jurnalis internasional dan organisasi kemanusiaan kesulitan untuk memverifikasi skala kehancuran serta jumlah korban jiwa yang sesungguhnya.

2. Sabotase Siber Mendahului Serangan Rudal

Fakta taktis yang berhasil diungkap sebelum rudal-rudal melesat adalah adanya serangan siber tingkat tinggi yang menjadi "gong pembuka" operasi ini.

Beberapa jam sebelum pemutusan internet secara total terjadi, sejumlah portal media dan kantor berita resmi yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, seperti IRNA (Islamic Republic News Agency) dan ISNA (Iranian Students' News Agency), mengalami peretasan masif. Serangan Distributed Denial of Service (DDoS) ini diyakini sebagai operasi psikologis (psy-ops) dan sabotase yang sengaja dirancang agar pemerintah Teheran tidak dapat menyebarkan narasi pembelaan diri, propaganda, maupun instruksi darurat kepada aparat dan rakyatnya.

Baca juga: Rekor Terburuk! Jam Kiamat Maju ke 85 Detik, Sinyal Bahaya Perang Nuklir & Iklim

3. Sandi Operasi Militer: "Epic Fury" dan "Roaring Lion"

Berdasarkan bocoran informasi intelijen yang dihimpun oleh The Wall Street Journal, gempuran mematikan ini merupakan kulminasi dari perencanaan taktis tingkat tinggi selama berbulan-bulan antara Washington dan Tel Aviv.

  • Amerika Serikat: Mengerahkan kekuatan udaranya di bawah payung misi bersandi "Operation Epic Fury".

  • Israel: Menjalankan manuver tempurnya menggunakan sandi "Operation Roaring Lion".

Fokus utama dari operasi ini sangat spesifik. Serangan udara menargetkan fasilitas pengembangan program nuklir Iran, pangkalan militer Garda Revolusi, serta gudang penyimpanan persenjataan balistik. Ledakan paling dahsyat dilaporkan mengguncang jantung ibu kota Teheran, tepatnya di area distrik Jomhouri, yang letaknya berdekatan dengan kompleks perkantoran Pemimpin Spiritual Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian. Militer Israel mengklaim telah menyebarkan peringatan awal agar warga sipil menjauhi objek-objek militer guna meminimalisasi collateral damage (jatuhnya korban sipil).

Baca juga: Ikuti Amerika? Rusia Targetkan Bangun Reaktor Nuklir di Bulan Sebelum Tahun 2036!

4. Justifikasi Donald Trump dan Gejolak Pasar Global

Dalam pernyataan resmi pasca-serangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan justifikasi yang sangat keras terkait invasi tersebut. Ia menegaskan bahwa operasi gabungan ini adalah tindakan preventif absolut yang harus diambil guna melenyapkan ancaman program nuklir Iran, yang menurut pandangannya telah mencapai ambang batas yang membahayakan keamanan global. Secara provokatif, Trump juga menyerukan agar rakyat Iran memanfaatkan momentum krisis ini untuk mengambil alih kendali atas pemerintahan mereka sendiri dari tangan rezim penguasa.

Di sisi lain, guncangan hebat dari Timur Tengah ini langsung merembet ke pasar finansial global. Sentimen kepanikan (panic selling) membuat para investor menarik likuiditasnya dari instrumen berisiko tinggi. Terpantau di bursa digital, harga aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) langsung anjlok lebih dari 6 persen hanya dalam hitungan jam pasca-eskalasi, membuktikan betapa rentannya stabilitas ekonomi dunia terhadap percikan perang di kawasan kaya minyak tersebut.

Baca berita dan artikel lainnya di Google News

(WN/ZA)

author0
teknologi id bookmark icon

Tinggalkan Komentar

0 Komentar