Cara Bumi Kirim Peringatan! Musim Baru Bermunculan di Dunia, Termasuk Indonesia

Sarah Shabrina . August 01, 2025

Teknologi.id - Munculnya musim baru di berbagai penjuru dunia menunjukan bahwa kondisi bumi kian mengkhawatirkan. Krisis iklim dan kerusakan lingkungan menjadi penyebab lahirnya fenomena baru akibat ulah manusia.

Seperti yang kita tahu, lazimnya negara-negara di Eropa dan Asia Timur memiliki 4 musim yaitu musim salju, musim panas, musim semi dan musim gugur. Sedangkan untuk negara bagian Asia Tenggara memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim hujan.

Namun, pada kenyataannya bukan lagi sekadar musim panas,  musim gugur, musim dingin, musim semi, musim hujan dan musim kemarau yang kita kenal. Tapi juga musim polusi, musim banjir, hingga musim sampah laut.

Dari musim baru yang bermunculan tersebut, kita dapat merasakan bahwa memang terjadi perubahan iklim. Yang menyebabkan terjadinya beberapa fenomena seperti hujan yang datang pada periode musim kemarau, badai ekstrem, kabut tebal di beberapa negara, fenomena “bediding”di Indonesia, dan beberapa fenomena iklim lainnya.

Hal ini seharusnya bisa menjadi sinyal waspada yang dikirim langsung oleh bumi.

Ketika Dunia Punya Musim tambahan

Pergantian dari musim ke musim yang dulu dapat dihitung dan diperkirakan secara teratur, kini mulai kehilangan ritme periodenya. Tidak hanya hilang ritmenya, ternyata sejumlah musim-musim baru mulai bermunculan di beberapa negara.

Munculnya musim baru dinamakan sebagai istilah musim antropogenik atau musim yang muncul akibat ulah aktivitas manusia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa musim baru yang bermunculan tersebut bukan berasal secara alamiah tetapi memang secara sengaja “dibuat” oleh manusia.

Para peneliti, setidak nya mengatakan bahwa ada tipe musim baru.  

  • Pertama Syncopated Season atau musim sinkop yang berarti musim panas ekstrem dan tidak bisa di prediksi.
  • Kedua Arrhythmic Season atau musim artimik yang menggambarkan perubahan siklus musim tidak beraturan.

Musim baru ini menjelaskan bahwa bisa saja hawa panas ketika musim panas menjadi lebih ekstrem dengan jangka waktu yang lama. Tidak memungkinkan juga akan terjadi badai salju serta hujan lebat secara tiba-tiba.

Jika terlalu lama dibiarkan, maka perubahan pola musim ini dapat mempengaruhi dan menggangu siklus hidup hewan dan tumbuhan yang bergantung pada musim.

Baca Juga: Australia Larang Anak di Bawah 16 Tahun Akses YouTube, Ini Alasannya!

Musim Kabut dan Musim Sampah di Indonesia

Tidak hanya di luar negeri, ternyata Indonesia juga mengalami musim baru. bukan sekadar musim kemarau dan musim hujan saja. Tetapi musim baru yang  nyata nya sudah menjadi musim “rutinan” setiap tahunnya.

  1. Musim Kabut Asap.

Musim ini melanda negara-negara utara dan khatulistiwa di Asia Tenggara termasuk di Indonesia. hampir setiap tahun di wilayah kalimantan, Sumatera, Papua dan sekitarnya merasakan musim kabut asap. Asap pekat ini disebabkan dari praktik pembakaran hutan dan lahan secara besar-besaran.

              2. Musim Sampah


Setiap tahun pada sekitar bulan Oktober hingga Maret terjadi fenomena tumpukan sampah di pesisir Pantai Selatan Bali. Ribuan sampah memenuhi pantai. Diduga sampah-sampah tersebut akibat dari arus laut. Beberapa pantai seperti Pantai Kuta, Pantai kedonganan, Pantai Jimbaran, Seminyak hingga Canggu menjadi lokasi yang paling parah.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, jumlah kiriman sampah di tahun 2024-2025 diperkirakan akan lebih banyak dibandingakan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: CEO Nvidia Angkat Bicara: Tanpa Ilmuan AI China, Dunia Teknologi Bisa Tertinggal

Mengapa ini Harus di Waspadai

Fenomena munculnya musim baru hingga perubahan iklim yang tidak dapat diprediksi mengundang kekhawatiran karena berdampak langsung bagi kesehatan manusia, ketahanan pangan, ekonomi dan kehidupan sosial.

Seperti saat musim kemarau yang panjang dengan kondisi panas yang ekstrem dapat memicu peningkatan penyakit dehidrasi hingga penyakit kulit. Munculnya kabut asap tebal ditambah polusi udara yang meningkat dapat menyebabkan gangguan pernapasan.

Selain itu, dampak negatif juga bisa dirasakan oleh hewan dan tumbuhan yang bergantung pada siklus musim untuk masa panen, berkembang biak, bermigrasi dan mencari makan. Ketika pola musim terganggu, maka mereka juga akan terganggu dan menyebabkan penurunan populasi dan keanekaragaman hewani dan hayati secara besar-besaran.

Penutup

Musim-musim baru yang bermunculan bukan sekadar gejala iklim ekstrem, melainkan sinyal waspada bahwa bumi sedang mengalami gangguan serius.  Jika dibiarkan tanpa adanya perubahan dan perbaikan, maka sedikit demi sedikit bumi akan hancur.

Maka dari itu, mulailah hal kecil untuk gerakan peduli lingkungan, seperti kurangi sampah plastik dan hemat listrik.

Baca artikel dan berita lainnya di Google News – Teknologi.id

(SS)

Share :